Harga Chip Memori Naik 20 Persen, AI Jadi Pemicu

Harga chip memori naik sekitar 20 persen pada kuartal III-2026 di tengah permintaan AI dan pasokan yang terbatas. Bernstein memperkirakan tekanan harga dapat berlanjut hingga 2027.

harga-chip-memori-naik-20-persen-ai-pemicu

Harga chip memori naik sekitar 20 persen secara triwulanan pada kuartal III-2026. Firma riset Bernstein menyebut kenaikan itu dipicu kekurangan pasokan yang terus berlangsung, sementara permintaan dari sektor kecerdasan buatan (AI) belum menunjukkan tanda mereda.

Tekanan pasokan diperkirakan berlanjut setelah kuartal ketiga. Bernstein menilai harga chip memori masih berpeluang naik pada kuartal IV-2026 dan kelangkaan dapat bertahan hingga 2027. Kondisi ini turut mendorong perkiraan lonjakan laba operasional Samsung Electronics, produsen chip memori terbesar di dunia.

Permintaan AI memperketat pasokan chip memori

Bernstein menyatakan permintaan yang kuat dari industri AI memperburuk kekurangan pasokan. “Kekurangan pasokan semakin parah karena permintaan yang tak henti-hentinya dari sektor kecerdasan buatan,” kata firma riset itu, seperti dikutip Investing pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Investasi besar untuk pengembangan AI mendorong kebutuhan chip, termasuk memori yang digunakan dalam pusat data. Di saat permintaan meningkat, pasokan belum mampu mengimbanginya. Ketimpangan tersebut menjadi salah satu alasan harga memori terus terkerek.

Dampak persaingan pasokan juga terlihat di industri komputer pribadi. Riset IDC yang dikutip Telset.id mencatat pengiriman PC global turun 20,1 persen secara tahunan pada kuartal III-2026, setara dengan penurunan 15,8 juta unit. IDC mengaitkan kontraksi itu antara lain dengan penumpukan inventori lebih awal oleh vendor dan jalur distribusi, yang dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan harga komponen.

Langkah tersebut mengubah pola musiman pasar. Kuartal ketiga biasanya mencatat pengiriman lebih besar dibanding kuartal kedua, tetapi pada 2026 polanya berbalik. Di tengah harga yang tinggi, jalur distribusi juga khawatir menahan inventori terlalu banyak ketika permintaan perangkat tertekan.

Samsung perkirakan laba melonjak tajam

Kenaikan harga chip memori menjadi angin segar bagi Samsung Electronics. Perusahaan itu memperkirakan laba operasional pada periode Juli-September 2026 mencapai 107,4 triliun won atau sekitar Rp1.430 triliun. Angka tersebut berarti kenaikan 782,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perkiraan tersebut mencerminkan besarnya pengaruh harga memori terhadap kinerja perusahaan. Samsung merupakan produsen chip memori terbesar di dunia, sehingga perubahan harga dan kondisi pasokan menjadi faktor penting bagi bisnisnya. Namun, proyeksi laba itu tetap merupakan perkiraan perusahaan, bukan hasil keuangan final.

Lonjakan investasi di sektor AI ikut membentuk kondisi pasar. Ketika perusahaan memperbesar belanja untuk kebutuhan infrastruktur AI, perebutan pasokan memori makin ketat. Bagi produsen perangkat, situasi ini berarti ketersediaan komponen dan biaya pengadaan menjadi perhatian yang semakin besar.

IDC juga mencatat strategi menimbun inventori pada kuartal sebelumnya ikut memengaruhi angka pengiriman PC. Vendor dan jalur distribusi berusaha mengamankan barang sebelum harga naik, tetapi persediaan yang lebih besar kemudian membuat mereka berhati-hati membawa produk tambahan ke pasar. Tekanan harga pun berpengaruh pada keputusan pembelian perangkat.

Harga tinggi berpotensi bertahan hingga 2027

Bernstein memperkirakan kendala pasokan akan membuat kenaikan harga berlanjut pada kuartal IV-2026. Firma itu juga melihat kekurangan chip memori berpotensi bertahan sampai 2027. Dengan demikian, konsumen dan produsen perangkat masih harus menghadapi ketidakpastian pasokan dalam beberapa kuartal mendatang.

Di pasar PC, dampaknya tidak hanya tercermin pada pengiriman yang melemah. Telset.id melaporkan harga memori untuk kebutuhan komputer melonjak hingga 500 persen, sementara harga PC diperkirakan tetap tinggi. Meski promosi jangka pendek mungkin muncul ketika jalur distribusi berupaya mengurangi inventori, harga perangkat belum tentu kembali ke tingkat setahun sebelumnya.

Prospek ke depan masih bergantung pada seberapa cepat pasokan dapat mengejar kebutuhan industri. Selama permintaan AI tetap menyerap banyak kapasitas dan kekurangan memori belum teratasi, produsen perangkat harus menimbang biaya komponen serta strategi harga dengan lebih cermat. Bagi konsumen, perkembangan pasokan dan harga pada kuartal berikutnya akan menjadi penentu apakah tekanan biaya mulai mereda.

Ruangpublik