Infeksi Tenggorokan pada Anak Bisa Merusak Katup Jantung
Infeksi tenggorokan yang tidak ditangani dapat memicu demam rematik dan merusak katup jantung. Skrining anak sekolah di Bekasi menjadi salah satu upaya menemukan risiko lebih awal.
Infeksi tenggorokan akibat bakteri streptokokus yang tidak ditangani dengan baik dapat berujung pada kerusakan katup jantung. Anak-anak usia sekolah termasuk kelompok yang perlu diwaspadai karena penyakit jantung rematik dapat berkembang tanpa gejala yang jelas.
Rangkaian masalahnya tidak terjadi seketika. Infeksi dapat memicu demam rematik, yakni peradangan yang dalam kondisi tertentu menyerang katup jantung. Jika kerusakan berlangsung, fungsi jantung dalam mengalirkan darah bisa terganggu. Karena keluhan bisa terlambat muncul, deteksi dini menjadi salah satu fokus program skrining pada anak sekolah.
Skrining menyasar anak usia sekolah
Program Yayasan Jantung Indonesia (YJI) menargetkan pemeriksaan terhadap 8.000 anak sekolah dasar di sejumlah daerah. Kabupaten Bekasi menjadi lokasi ketiga dari empat daerah prioritas, setelah Malang dan Tulang Bawang, Lampung. Lokasi berikutnya yang masuk sasaran adalah Minahasa Utara.
Di Bekasi, skrining tahap pertama dilakukan di SDN Cibuntu 01 dan SDN Warnasari 01. Sebanyak 958 siswa menjalani pemeriksaan, terutama anak kelas 5 dan 6. Tim menggunakan ekokardiografi portabel, alat ultrasonografi jantung yang dapat membantu melihat kondisi katup.
Investor Daily melaporkan, hasil pemeriksaan tersebut akan dianalisis untuk menentukan tindak lanjut yang diperlukan. Data program juga direncanakan menjadi bahan publikasi ilmiah dan pertimbangan bagi rekomendasi skrining di sekolah.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Ario Soeryo Kuntjoro, yang memimpin proyek skrining YJI, menjelaskan bahwa anak berusia 5 hingga 15 tahun termasuk kelompok rentan. Pemeriksaan di sekolah diharapkan menemukan kelainan lebih awal, sebelum kerusakan jantung berkembang lebih jauh.
Menurut data yang dikutip Investor Daily, sekitar 60 persen kasus radang tenggorokan berulang berpotensi berkembang menjadi penyakit jantung rematik. Lebih dari separuh kasus penyakit tersebut juga dilaporkan belum menimbulkan gejala hingga mencapai stadium lanjut. Angka itu memperlihatkan tantangan dalam mengenali penyakit hanya dari keluhan yang dirasakan anak.
Dari infeksi hingga gangguan katup
Dokter Rina Ariani, spesialis jantung dan pembuluh darah di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, menerangkan kepada detikHealth bahwa infeksi bakteri streptokokus grup A yang tidak tertangani dapat memicu demam rematik. Peradangan akibat kondisi tersebut bisa merusak katup jantung secara permanen.
Penjelasan serupa disampaikan dokter Puti Sarah Saus kepada Liputan6.com. Ia mengingatkan bahwa masalah katup dapat menghambat kemampuan jantung memompa darah. Pada usia lanjut, kerusakan katup juga dapat muncul karena proses degeneratif, sehingga penyebabnya tidak selalu berkaitan dengan infeksi.
Keluhan yang patut diperhatikan meliputi sesak napas, nyeri dada, pingsan, atau kondisi hampir pingsan. Namun, gejala pada sebagian pasien baru terasa setelah kerusakan berlangsung cukup lama. Riwayat infeksi tenggorokan yang berulang atau tidak tertangani menjadi alasan untuk meminta pemeriksaan medis, bukan menunggu keluhan berat muncul.
Gangguan katup juga tidak otomatis berarti pasien harus menjalani operasi. Penanganan bergantung pada jenis dan tingkat kerusakan serta kondisi pasien. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah diperlukan intervensi.
Pemeriksaan awal dapat dimulai di layanan umum
Pemeriksaan awal bisa dilakukan oleh dokter umum. Bila ditemukan dugaan gangguan jantung, pasien dapat dirujuk kepada dokter spesialis untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ekokardiografi menjadi salah satu cara untuk menilai struktur dan fungsi katup jantung.
Liputan6.com melaporkan, perkembangan penanganan kini mencakup prosedur minimal invasif dengan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah, termasuk dari area paha. Metode tersebut dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu sebagai alternatif operasi terbuka, tetapi keputusan tindakan tetap ditentukan setelah pemeriksaan menyeluruh.
Selain pemeriksaan, informasi bagi guru dan orang tua menjadi bagian dari upaya skrining YJI. Pengenalan gejala dan riwayat sakit anak dapat membantu keluarga mencari pertolongan lebih cepat. Hasil pemeriksaan di Bekasi akan dianalisis untuk menetapkan langkah lanjutan bagi anak yang membutuhkan tindak lanjut medis.
