Merauke Perkuat Edukasi HIV/AIDS untuk Remaja
KPA Merauke menggencarkan edukasi HIV/AIDS di sekolah dan lokalisasi. Fauzun Nihayah juga menekankan perlunya pendampingan agar warga yang terjangkit tidak menghadapi stigma.
MERauke menggencarkan sosialisasi HIV dan AIDS di sekolah-sekolah untuk menekan penularan di kalangan remaja. Wakil Bupati Merauke Fauzun Nihayah mengatakan kelompok usia muda termasuk dalam data warga yang terjangkit, sehingga pencegahan menjadi perhatian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Merauke.
Fauzun, yang juga menjabat Ketua Harian KPA Merauke, menyebut edukasi dilakukan melalui kerja sama dengan organisasi masyarakat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Menurut laporan Pasific Pos, ia menyampaikan hal itu di Hotel Megaria pada Jumat (30/10). Tahun pernyataan tersebut tidak dicantumkan dalam laporan.
Sosialisasi menyasar sekolah dan lokalisasi
Program yang disebut Fauzun mencakup kunjungan sosialisasi ke SMA. KPA juga menyampaikan edukasi di lokalisasi, dengan perhatian pada risiko hubungan seksual bebas. Ia mengatakan sosialisasi mengenai hal itu dilakukan secara intensif sebagai salah satu cara mencegah remaja terjangkit HIV dan AIDS.
Dalam penjelasannya, Fauzun tidak merinci jumlah remaja yang terjangkit maupun perubahan angka kasus. Ia menekankan bahwa remaja sudah termasuk dalam data yang dimiliki, tanpa menyebut angka atau rentang waktu pencatatan. Karena itu, keterangan yang disampaikan lebih berfokus pada langkah pencegahan yang sedang dijalankan.
Pelibatan banyak unsur menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Sekolah menjadi sasaran penyampaian informasi, sementara organisasi masyarakat serta tokoh agama dan masyarakat turut diajak bekerja sama. KPA juga berkoordinasi dengan Kantor Kementerian Agama, terutama dalam pendampingan dan penguatan iman yang dinilai perlu berjalan bersama edukasi.
Pesan yang disampaikan bukan hanya soal pencegahan. Fauzun juga menyoroti pentingnya pemahaman yang tepat mengenai penularan HIV dan AIDS, agar warga tidak berpegang pada anggapan yang keliru. Edukasi, dalam pandangannya, perlu membantu masyarakat memahami persoalan tersebut sekaligus menghindari perlakuan yang merugikan orang yang hidup dengan HIV atau AIDS.
Pendampingan untuk mengurangi stigma
Fauzun mengingatkan bahwa orang yang terjangkit dapat menghadapi stigma negatif. Ia meminta mereka tidak dijauhi, melainkan dirangkul dan didampingi. Dukungan, menurut dia, dapat membantu mereka menjalani kehidupan dengan optimistis dan tetap memberi manfaat.
Perhatian terhadap stigma itu membuat upaya KPA tidak berhenti pada penyuluhan tentang perilaku berisiko. Pesan yang disampaikan juga menyangkut sikap masyarakat terhadap orang yang terdampak. Pembedaan antara upaya mencegah penularan dan perlakuan terhadap penderita menjadi penting dalam keterangan Fauzun: pencegahan tetap digencarkan, tetapi mereka yang sudah terjangkit tidak semestinya ditinggalkan.
Ia menilai dukungan bagi penderita perlu menjadi bagian dari respons daerah. Dalam konteks itu, kerja sama dengan tokoh agama dan Kantor Kementerian Agama turut diarahkan pada pendampingan serta penguatan iman. Laporan Pasific Pos tidak merinci bentuk pendampingan, frekuensi kegiatan, ataupun jumlah sekolah yang telah didatangi.
Fauzun menyatakan berbagai langkah akan terus dimaksimalkan. Keterangan yang tersedia belum memuat jadwal lanjutan atau target angka dari KPA Merauke. Untuk saat ini, sosialisasi ke SMA dan lokalisasi, kerja sama lintas unsur, serta dukungan bagi warga yang terjangkit menjadi upaya yang ia paparkan.
