Mengapa Apple Dinilai Lambat Berinovasi?

Apple masih kuat di segmen ponsel premium, tetapi lambatnya pengembangan AI dan belum hadirnya iPhone lipat menambah tekanan di China. Kebangkitan Huawei ikut mengubah persaingan.

mengapa-apple-dinilai-lambat-berinovasi

Apple masih menguasai segmen ponsel premium, tetapi di China perusahaan itu menghadapi pertanyaan yang makin sulit dihindari: apakah inovasinya cukup cepat untuk menjaga daya tarik iPhone? Pada awal 2024, perhatian tertuju pada dua hal yang belum menjadi kekuatan Apple di pasar tersebut, yakni kecerdasan buatan (AI) generatif dan ponsel lipat.

Penilaian bahwa Apple lambat berinovasi bukan berarti perusahaan itu berhenti mengembangkan teknologi. Masalahnya lebih pada waktu peluncuran dan perubahan selera konsumen. Ketika sejumlah pesaing China telah menyiapkan perangkat kelas atas dengan fitur yang sedang diminati, Apple masih menunggu pengembangan AI yang lebih luas dan belum memiliki iPhone lipat yang dipasarkan.

Situasi itu membuat citra Apple sebagai pemimpin teknologi ikut diuji. Pengguna tetap mengenal iPhone karena pengalaman pemakaian dan ekosistemnya, tetapi keunggulan tersebut belum tentu cukup untuk pasar yang menuntut pembaruan nyata.

AI iPhone dinanti, pesaing bergerak lebih dulu

Integrasi AI menjadi salah satu titik lemah yang disorot pada awal 2024. Apple diperkirakan akan memperkenalkan kemampuan AI generatif bersama iOS 18, tetapi produsen lokal China disebut telah lebih dulu mengembangkan model bahasa besar atau large language models dan menyiapkan fitur AI untuk perangkat mereka.

Apple sebenarnya telah memperlihatkan langkah di bidang ini. Pada awal Februari, perusahaan merilis MLLM-Guided Image Editing, disingkat MGIE, sebuah model AI yang memungkinkan pengguna mengedit foto melalui instruksi teks. Namun, satu kemampuan untuk penyuntingan gambar belum menjawab seluruh ekspektasi terhadap AI di ponsel.

Will Wong, Senior Research Manager for Client Devices IDC Asia-Pacific, menilai Apple masih mampu memberi pengalaman yang disukai penggunanya meski tidak selalu menjadi perusahaan pertama yang menghadirkan teknologi baru. Namun, seperti dikutip detikInet dari South China Morning Post, Wong mengingatkan bahwa keterlambatan AI dapat mengurangi kesan Apple sebagai pemimpin teknologi. Konsumen China, menurut penilaiannya, membutuhkan alasan yang lebih kuat untuk memilih produk.

Karena itu, kecepatan bukan sekadar urusan siapa yang lebih dulu mengumumkan fitur. Jika pesaing mampu menawarkan AI yang terasa berguna dalam pemakaian sehari-hari, penundaan dapat membuat iPhone tampak kurang menarik, sekalipun perangkat Apple tetap diminati.

Ponsel lipat mengubah persaingan di China

Perubahan lain datang dari ponsel lipat. Perangkat jenis ini semakin populer di kalangan konsumen kelas atas di China, sementara Apple belum menjual iPhone dengan bentuk tersebut. DetikInet, mengutip laporan The Information, menyebut Apple tengah mengembangkan prototipe iPhone lipat model clamshell. Prototipe itu belum sama dengan produk yang sudah tersedia bagi pembeli.

Ketiadaan ponsel lipat menjadi lebih berarti karena persaingan di China tidak hanya berlangsung antara merek global. Produsen lokal juga bersiap memperbanyak ponsel kelas atas. Huawei kembali menjadi pesaing penting setelah meluncurkan Mate 60 Pro 5G pada Agustus tahun sebelumnya. Ponsel itu menggunakan chip Kirin 9000s buatan sendiri dan menarik perhatian pasar.

Data yang dikutip dalam laporan detikInet memperlihatkan perubahan posisi Huawei. Counterpoint mencatat Huawei berada di posisi teratas pasar China selama dua minggu pertama 2024. IDC juga melaporkan pengiriman Huawei tumbuh 36,2 persen pada kuartal keempat 2023, sehingga perusahaan itu kembali masuk lima besar.

Wong memperkirakan kekuatan merek Huawei dan peluang menghadirkan lebih banyak teknologi baru, termasuk ponsel lipat, akan menambah tekanan bagi Apple. Pengamat TF International Securities, Kuo Ming-chi, juga menilai kembalinya Huawei dan meningkatnya minat pada ponsel lipat menjadi faktor yang dapat memperpanjang penurunan Apple di China.

Dominasi premium belum menjamin posisi aman

Tekanan di China terlihat pada angka penjualan. Apple melaporkan pendapatan dari Greater China turun hampir 13 persen pada kuartal Desember, meskipun pendapatan meningkat di wilayah lain. Pengiriman iPhone mingguan di China juga dilaporkan merosot 30 hingga 40 persen dalam beberapa pekan terakhir.

Angka itu berseberangan dengan posisi Apple di pasar ponsel premium global. Untuk perangkat dengan harga rata-rata 600 dollar AS, Apple masih memiliki pangsa pasar 71 persen. Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan pangsa 75 persen yang dicapai pada 2022, seiring kebangkitan Huawei dan kenaikan Samsung.

Kontras tersebut menjelaskan mengapa kritik terhadap inovasi Apple menguat. Perusahaan masih memiliki basis pengguna besar dan posisi kuat di segmen premium, tetapi capaian global tidak otomatis melindunginya dari perubahan preferensi di satu pasar penting. China menjadi ujian khusus karena konsumen di sana melihat pilihan perangkat lipat dan fitur AI dari para pesaing lokal.

Dalam laporan yang dikutip detikInet, Wong menyarankan Apple berhati-hati menambah pengiriman ke China pada 2024. Pasar negara itu diperkirakan kembali tumbuh setelah periode stagnasi, tetapi pertumbuhan tersebut juga membuka ruang bagi pesaing. Apple perlu membuktikan bahwa pembaruan iPhone berikutnya mampu memberi alasan konkret bagi konsumen untuk bertahan, terutama saat kemampuan AI dan perangkat lipat terus berkembang di pasar.

Ruangpublik