Jam Kerja Terpendek: Angka Rata-rata dan Faktanya
Yaman, Belanda, dan sejumlah negara Eropa memiliki rata-rata jam kerja mingguan rendah. Namun, angka antarlaporan berbeda dan tidak menggambarkan jadwal setiap pekerja.
Yaman, Belanda, dan Norwegia masuk dalam daftar negara dengan rata-rata jam kerja mingguan yang rendah. Namun, angka tersebut tidak otomatis berarti setiap pekerja di sana menjalani hari kerja singkat. Rata-rata nasional dapat mencakup pekerja paruh waktu dan dipengaruhi oleh kondisi pasar kerja.
Data yang dihimpun sejumlah media juga menunjukkan angka berbeda, bergantung pada tahun dan rujukan yang digunakan. Karena itu, daftar negara dengan jam kerja terpendek lebih tepat dibaca sebagai gambaran statistik, bukan jadwal resmi yang berlaku bagi seluruh pekerja.
Yaman dan Belanda berada di kelompok teratas
Beautynesia, dengan mengacu pada data Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), menyebut rata-rata jam kerja aktual di Yaman pada 2025 sekitar 23,6 jam per minggu. Jika dibagi rata ke dalam lima hari kerja, hitungannya setara dengan kurang dari lima jam sehari. Namun, pembagian itu hanya ilustrasi, bukan gambaran pasti jadwal pekerja di negara tersebut.
Angka Yaman dalam laporan lain tidak sama. Haibunda, yang merujuk daftar World Population Review dan laporan Autonomy Institute, mencatat rata-rata 25,9 jam per minggu pada 2025. Perbedaan ini perlu diperhatikan ketika angka dari berbagai publikasi dibandingkan. Keduanya tetap menempatkan Yaman sebagai negara dengan jam kerja mingguan rendah, tetapi tidak memberikan nilai yang identik.
Menurut Haibunda, jam kerja Yaman yang rendah berkaitan dengan struktur pekerjaan dan situasi ekonomi. Banyak warga bekerja di pertanian serta usaha kecil, sementara sektor informal juga memengaruhi pola kerja. Dengan demikian, angka rendah tidak serta-merta menandakan kebijakan kerja yang lebih baik atau kondisi pekerja yang lebih sejahtera.
Belanda juga konsisten berada di antara negara dengan rata-rata jam kerja rendah. Beautynesia menyebut estimasi sekitar 26,5 jam per minggu untuk 2026. Haibunda mencatat 26,8 jam pada 2025. Salah satu konteks yang disorot kedua pemberitaan adalah banyaknya pekerjaan paruh waktu di negara itu, sehingga rata-rata seluruh pekerja dapat lebih rendah daripada jam kerja karyawan penuh waktu.
Beautynesia turut mengutip data OECD untuk 2025 yang mencatat sekitar 1.436 jam kerja aktual per pekerja di Belanda dalam setahun. Angka tahunan ini memberi sudut pandang tambahan, meski tidak dapat langsung disamakan dengan rata-rata mingguan dari sumber lain.
Angka Norwegia hingga Finlandia juga bervariasi
Norwegia, Austria, Denmark, dan Finlandia muncul dalam daftar yang sama. Menurut Beautynesia, rata-rata mingguan Norwegia sekitar 26,6 jam dan Austria 29,2 jam. Denmark serta Finlandia berada di kisaran 29 jam. Jika angka mingguan itu dibagi menjadi lima hari, hasilnya sekitar lima sampai enam jam per hari, tetapi pembagian tersebut bukan jadwal baku setiap pekerja.
Haibunda melaporkan angka berbeda untuk sejumlah negara pada 2025: Norwegia 27,1 jam, Austria 28,4 jam, serta Denmark dan Finlandia masing-masing 28,8 jam per minggu. Perbedaan dengan angka Beautynesia mengingatkan pembaca agar memperhatikan tahun dan sumber saat melihat peringkat. Data rata-rata bukan angka yang selalu tetap.
Haibunda juga mengaitkan jam kerja Norwegia dengan perlindungan sosial dan kebijakan yang mendukung fleksibilitas serta cuti orang tua. Untuk Austria, laporan itu menyoroti aturan kerja dan ketersediaan hari libur. Sementara itu, Denmark disebut memiliki perusahaan yang menerapkan pembagian satu pekerjaan penuh waktu kepada dua orang. Rincian tersebut memberi konteks, tetapi tidak mengubah arti dasar angka: statistik itu merangkum waktu kerja rata-rata, bukan pengalaman seragam seluruh penduduk.
Data tahunan bisa mengubah daftar negara
Perbedaan daftar terlihat lebih jelas ketika tahun pengamatan berubah. GoodStats, mengutip statistik ILO untuk 2023, menempatkan Vanuatu sebagai negara dengan rata-rata jam kerja terpendek, yakni 24,7 jam per minggu. Kiribati berada di angka 27,3 jam, sedangkan Mozambik 28,6 jam. Temuan ini tidak sama dengan daftar yang menempatkan Yaman di posisi teratas, antara lain karena periode data yang dirujuk berbeda.
GoodStats juga mencatat Uni Emirat Arab sebagai negara dengan rata-rata jam kerja terpanjang pada 2023, sebesar 52,6 jam per minggu. Gambia dan Bhutan menyusul dengan masing-masing 50,8 jam dan 50,7 jam. Dalam data yang sama, 46 persen pekerja UEA bekerja lebih dari 49 jam seminggu, batas yang disebut ILO sebagai kerja berlebihan. Di Austria, proporsinya tercatat 8 persen.
Untuk Indonesia, GoodStats menyebut rata-rata 39,3 jam kerja per minggu dan pola lima hari kerja masih umum diterapkan. Angka tersebut jauh di atas angka negara-negara yang berada di daftar jam kerja terpendek pada sejumlah laporan, tetapi perbandingan tetap perlu mempertimbangkan tahun dan metode pengumpulan data.
Jam kerja rata-rata berguna untuk membaca pola ketenagakerjaan lintas negara, tetapi tidak cukup untuk menilai kualitas hidup pekerja. Statistik dapat mencakup pekerja penuh waktu maupun paruh waktu dan tidak menjelaskan sendiri pemerataan jam kerja di setiap sektor. Karena itu, daftar tersebut sebaiknya dibaca bersama konteks pekerjaan dan tahun pengukurannya.
