Fake BTS di Rute MRT Dipakai Sebar SMS Phishing
Polda Metro Jaya menangkap lima tersangka yang diduga menyebarkan SMS phishing memakai fake BTS di sekitar rute MRT. Polisi menyebut sindikat itu beroperasi selama tiga bulan dan meraup sekitar Rp 50 juta.
Polda Metro Jaya membongkar sindikat yang diduga menyebarkan SMS phishing dengan perangkat fake BTS di sekitar jalur MRT Jakarta, dari Bundaran HI hingga Blok M. Lima orang ditangkap setelah polisi menerima laporan tiga korban. Pesan berisi tautan palsu yang mencatut nama perusahaan telekomunikasi, perbankan, hingga layanan e-commerce.
Kasus ini terungkap setelah polisi mencurigai sebuah mobil berwarna silver yang berulang kali melintas perlahan di sepanjang rute tersebut. Saat diperiksa, petugas menemukan perangkat fake BTS di dalam mobil. Menurut penyidik, para tersangka beroperasi selama sekitar tiga bulan dan memperoleh uang sekitar Rp 50 juta.
Mobil mencurigakan di jalur MRT membuka penyelidikan
Pengungkapan perkara bermula dari laporan tiga orang yang menerima SMS berisi promosi. Isi pesan berbeda-beda, tetapi semuanya mengarahkan penerima ke sebuah tautan yang menuju situs palsu. Nama perusahaan perbankan, e-commerce, provider telekomunikasi, hingga sebuah kedai kopi disebut digunakan untuk membuat pesan tampak meyakinkan.
Polisi kemudian menelusuri aktivitas di sekitar jalur MRT, mulai dari Bundaran HI, Jakarta Pusat, sampai kawasan Blok M. Sebuah mobil silver dengan nomor polisi B-2755-XXX menarik perhatian karena kerap mondar-mandir dengan kecepatan rendah. Setelah digeledah, petugas menemukan alat fake BTS yang dioperasikan GM, salah satu tersangka.
Penangkapan lima tersangka dilakukan pada 31 Juli 2026. Mereka berinisial GM, NL, AGW, JYI, dan AD. Kasus ini berkembang setelah polisi memeriksa GM, yang mengaku bekerja atas perintah NL. Menurut keterangan penyidik, NL bertugas mencari mobil dan pengemudi untuk menjalankan operasi.
“Dari saudara GM kemudian kami kembangkan, ia mengaku bekerja atas perintah atau suruhan saudara NL. Nah, saudara NL inilah yang kemudian kita dalami, dia perannya adalah pencari mobil untuk digunakan serta pencari driver,” ujar Kasubdit IV Ditressiber Polda Metro Jaya AKBP Grawas Sugiharto.
Penyelidikan kemudian mengarah kepada AGW. Polisi menyebut AGW menggaji NL dan GM. Peran dua tersangka lainnya, JYI dan AD, tidak dirinci dalam keterangan yang disampaikan.
SMS promo palsu meminta data kartu kredit
Dalam menjalankan aksinya, para tersangka mengirim SMS secara massal atau SMS blasting. Pesan itu biasanya menawarkan promo atau mengingatkan penerima bahwa poin mereka akan segera kedaluwarsa. Korban diminta mengeklik tautan untuk menukarkan poin dengan voucher atau barang.
Tautan tersebut membuka situs yang dibuat menyerupai laman resmi perusahaan. Setelah masuk, korban diminta memasukkan informasi kartu kredit. Polisi menyatakan SMS yang diterima para korban tidak seragam: ada yang seolah berasal dari bank, e-commerce, maupun provider telekomunikasi.
Modus ini memanfaatkan tampilan pesan yang tampak relevan dan mendesak. Penerima diarahkan untuk mengambil tindakan melalui tautan, lalu diminta memberikan data kartu. Karena itu, pesan promo yang meminta pengguna membuka situs dan memasukkan informasi pembayaran perlu diperiksa dengan cermat, terutama jika pengirim atau alamat laman tidak dapat dipastikan.
Bagaimana fake BTS mengirim pesan?
Fake BTS merupakan perangkat yang mensimulasikan spektrum frekuensi GSM kepada ponsel di sekitarnya. Dengan cara itu, perangkat dapat bekerja menyerupai BTS asli, meski bukan bagian dari jaringan BTS resmi. Dalam perkara ini, alat tersebut ditemukan di mobil yang bergerak di sekitar rute MRT.
Polisi menyebut operasi para tersangka telah berlangsung sekitar tiga bulan sebelum penangkapan. Dari penyitaan rekening para tersangka, penyidik mengamankan uang sekitar Rp 50 juta. Angka tersebut disebut sebagai hasil yang diperoleh selama periode operasi itu.
Pengungkapan kasus ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian saat menerima SMS yang menawarkan hadiah atau meminta penerima menukarkan poin lewat tautan. Jangan memasukkan data kartu kredit pada laman yang belum dipastikan keasliannya. Penanganan perkara oleh polisi juga menjadi pengingat bahwa pesan yang tampak resmi belum tentu berasal dari lembaga yang namanya tercantum.
