Laporan CIA Soroti Risiko Konflik Internal Israel

Laporan rahasia CIA yang dikutip media memperingatkan risiko konflik internal di Israel. Perpecahan politik, beban perang, perselisihan wajib militer, dan tekanan ekonomi disebut dapat saling memperburuk.

laporan-cia-risiko-konflik-internal-israel

Israel menghadapi risiko konflik internal yang dapat memburuk menjadi perang saudara, menurut laporan rahasia CIA yang disebut disusun pada Agustus 2026. Penilaian itu menyoroti perpecahan politik, tekanan ekonomi, serta kelelahan militer setelah perang berkepanjangan di Gaza, Lebanon, dan Iran.

Laporan berjudul Fracture From Within atau “Retak dari Dalam” tersebut diberitakan Drop Site News bersama Capital & Empire pada 5 Oktober. Mengutip dua sumber Amerika Serikat yang mengetahui isinya, laporan itu disusun unit Red Cell CIA, yang bertugas menguji asumsi umum dan mengembangkan analisis alternatif mengenai risiko strategis.

Namun, dokumen lengkapnya belum dipublikasikan secara terbuka. CIA juga tidak memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi Drop Site News. Karena itu, rincian laporan yang beredar masih bersandar pada keterangan sumber-sumber tersebut.

Tekanan perang dan polarisasi dinilai saling memperburuk

Para analis CIA, menurut sumber yang dikutip, menilai sejumlah persoalan di Israel dapat saling memperkuat. Di antaranya meningkatnya biaya perang, beban terhadap perekonomian, kelelahan pasukan cadangan, perselisihan tentang wajib militer, kekerasan pemukim di Tepi Barat, serta ketidakstabilan politik di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Operasi militer di berbagai front juga berdampak pada kehidupan sehari-hari. Mobilisasi pasukan cadangan berulang kali mengganggu pekerjaan dan kehidupan keluarga, sementara pengeluaran militer meningkat dan biaya hidup menekan masyarakat.

Kondisi itu dikhawatirkan memperbesar rasa ketidakadilan di antara kelompok warga yang merasa menanggung beban perang secara tidak seimbang. Sejumlah tentara cadangan harus berulang kali meninggalkan pekerjaan dan keluarga untuk bertugas, sedangkan sebagian kelompok lain tidak diwajibkan menjalani dinas militer.

Sumber di komunitas intelijen AS memperingatkan bahwa Israel mungkin hanya berjarak satu pemicu dari konflik internal yang nyata. “Ini bukan skenario khayalan,” kata sumber tersebut, merujuk pada risiko menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.

Perselisihan wajib militer menjadi sumber ketegangan

Salah satu persoalan yang disorot adalah pengecualian wajib militer bagi laki-laki Yahudi ultra-Ortodoks atau Haredi. Selama bertahun-tahun, banyak dari mereka memperoleh pengecualian agar dapat melanjutkan pendidikan agama. Kebijakan itu semakin dipersoalkan ketika pasukan cadangan terus dimobilisasi untuk operasi militer.

Bagi sebagian tentara cadangan dan keluarga mereka, persoalannya terletak pada pembagian beban. Di sisi lain, pemimpin komunitas Haredi berpendapat bahwa dinas militer dapat mengganggu kehidupan keagamaan dan kewajiban mempelajari Taurat.

Ketegangan tersebut berlangsung ketika kebutuhan personel militer meningkat. Laporan itu juga menyoroti kemungkinan dampak psikologis dari penugasan panjang. Sebagian tentara dan personel cadangan yang kembali dari medan perang dilaporkan mengalami tekanan psikologis.

Menurut laporan yang dikutip, kombinasi polarisasi politik, trauma perang, dan kepemilikan senjata di kalangan veteran berpotensi memperbesar risiko bentrokan apabila ketegangan sosial terus meningkat. Penilaian itu menggambarkan risiko, bukan kepastian bahwa perang saudara akan terjadi.

Pemilu menambah tekanan politik bagi Netanyahu

Persaingan menjelang pemilu memperumit situasi. Baik blok pendukung Netanyahu maupun kelompok penentangnya menghadapi tantangan untuk mengamankan mayoritas di parlemen. Sementara itu, penentangan terhadap Netanyahu tidak otomatis berarti penolakan terhadap operasi militer Israel di Gaza atau kebijakan negara terhadap Palestina; sebagian oposisi berfokus pada kegagalan keamanan, penanganan perang, dan kebijakan domestik.

Tekanan politik itu tercermin dalam jajak pendapat Channel 12 Israel yang diberitakan pada 15 Oktober. Survei tersebut memproyeksikan blok oposisi meraih 67 kursi di Knesset yang memiliki 120 kursi, sementara koalisi pemerintahan memperoleh 49 kursi. Untuk membentuk pemerintahan, sebuah blok membutuhkan sedikitnya 61 kursi.

Survei yang sama memproyeksikan Partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot memperoleh 23 kursi, dibandingkan 20 kursi untuk Likud yang dipimpin Netanyahu. Dalam pertanyaan mengenai sosok yang lebih layak menjadi perdana menteri, 45 persen responden memilih Eisenkot dan 35 persen memilih Netanyahu.

Laporan CIA itu menempatkan ketegangan politik, beban ekonomi, dan kelelahan perang dalam satu rangkaian risiko yang dapat menguji kohesi masyarakat Israel. Seberapa jauh tekanan tersebut berkembang akan bergantung pada dinamika politik dan keamanan menjelang pemilu, sementara isi lengkap laporan yang dikutip belum tersedia untuk diperiksa publik.

Ruangpublik