Man Wei Chong/Tee Kai Wun Cemas Sistem Skor 15
Man Wei Chong dan Tee Kai Wun, pasangan ganda putra Malaysia binaan Herry IP, menilai sistem skor 15 dapat membawa peluang sekaligus risiko setelah paceklik gelar mereka berakhir.
Man Wei Chong dan Tee Kai Wun mengkhawatirkan penerapan sistem skor 15 dalam bulu tangkis. Pasangan ganda putra Malaysia yang berlatih di bawah Herry IP itu menilai format baru dapat menjadi pedang bermata dua, seperti diberitakan Juara.net dan Bolasport.com.
Kekhawatiran tersebut muncul tak lama setelah anak didik Herry IP itu mengakhiri paceklik gelar. Perubahan sistem skor berpotensi mengubah cara pertandingan berjalan, sehingga hasil baik yang baru diraih belum tentu membuat mereka merasa aman menghadapi format berbeda.
Skor lebih pendek, ruang kesalahan menyempit
Dalam sistem yang menggunakan angka akhir 15, jumlah poin untuk menuntaskan gim lebih sedikit dibanding format 21 poin. Secara hitungan, pemain memiliki ruang yang lebih sempit untuk mengejar ketertinggalan. Kesalahan beruntun atau kehilangan beberapa poin bisa terasa lebih berat karena pertandingan menuju penentuan lebih cepat.
Namun, format singkat juga bisa memberi peluang bagi pemain yang mampu memulai dengan baik dan menjaga konsistensi. Di titik itulah sistem ini dapat terasa seperti pedang bermata dua. Keuntungan bisa berpindah cepat, sementara satu gim yang berakhir lebih awal belum tentu memberi cukup waktu untuk membalikkan keadaan.
Ringkasan laporan Juara.net menyebut kekhawatiran itu datang setelah pasangan Malaysia tersebut baru mengakhiri paceklik gelar. Keterangan yang tersedia tidak merinci turnamen yang menjadi penanda berakhirnya masa tanpa gelar itu maupun pernyataan langsung kedua pemain mengenai perubahan skor. Karena itu, dampak format baru terhadap persiapan mereka belum dapat dipastikan.
Adaptasi bakal menentukan
Bagi Man dan Tee, perhatian terhadap sistem skor 15 bukan sekadar soal angka akhir. Perubahan format dapat menuntut penyesuaian dalam mengelola momentum dan mengambil keputusan selama pertandingan. Dalam gim yang lebih singkat, kesempatan untuk memperbaiki awal yang buruk bisa berkurang. Sebaliknya, pasangan yang cepat menemukan ritme berpeluang menekan lawan sejak poin-poin pertama.
Meski demikian, laporan yang beredar belum menjelaskan kapan sistem tersebut akan diterapkan, bagaimana aturan lengkapnya, atau apakah perubahan itu sudah masuk ke kompetisi tertentu. Belum ada pula rincian mengenai rencana latihan khusus yang disiapkan pasangan Malaysia itu. Kekhawatiran mereka sejauh ini menjadi gambaran bahwa perubahan format dipandang membawa risiko sekaligus kemungkinan keuntungan.
Bolasport.com juga mengaitkan kabar tentang anak didik Herry IP dengan berakhirnya penantian panjang ganda putra Malaysia di French Open 2026. Namun, informasi yang tersedia tidak cukup untuk memastikan rincian hasil maupun hubungannya dengan perubahan skor. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada keputusan resmi mengenai format pertandingan dan bagaimana para pemain menyesuaikan diri.
