USA 32, Satelit Mata-Mata AS yang Pecah di Orbit
USA 32, satelit mata-mata AS era Perang Dingin, terfragmentasi di orbit Bumi rendah. Penyebabnya belum diketahui dan puingnya berpotensi mengancam wahana lain.
Satelit mata-mata Amerika Serikat USA 32 mengalami fragmentasi mendadak di orbit Bumi rendah pada 13 September. Wahana peninggalan era Perang Dingin itu berada sekitar 775 kilometer di atas permukaan Bumi ketika hancur. Hingga kini, penyebabnya belum diketahui, sementara serpihan yang tersebar berpotensi membahayakan wahana antariksa lain di orbit yang sudah padat.
Space Track, divisi pengamatan satelit Angkatan Luar Angkasa AS, mengumumkan peristiwa itu pada 17 September. Pengumuman tersebut menyebut fragmentasi terjadi empat hari sebelumnya. Tidak ada keterangan mengenai pemicu kejadian maupun jumlah puing yang dihasilkan.
USA 32 juga dikenal dengan nama Farrah III. Satelit berbentuk silinder itu diluncurkan National Reconnaissance Office (NRO) pada 1988 untuk menyadap sinyal radar dan radio Uni Soviet. Misi tersebut baru dibuka kepada publik pada awal tahun ini.
Jejak USA 32 dan serpihan di orbit
Wahana ini digambarkan memiliki bentuk seperti kaleng tuna berukuran raksasa. Kemungkinan besar USA 32 telah lama berhenti beroperasi, tetapi tetap mengelilingi Bumi sejak misinya berakhir. Nama Farrah III berasal dari aktris Farrah Fawcett, mengikuti tradisi NRO yang menamai satelit dengan tokoh terkenal era 1970-an dan 1980-an.
Setelah pengumuman Space Track, sejumlah organisasi turut mengonfirmasi satelit itu terfragmentasi. Perusahaan pelacak satelit swasta s2a systems bahkan berhasil memotret serpihan terbesar yang masih tersisa di orbit. Namun, sejauh ini informasi yang tersedia belum merinci berapa banyak bagian yang tercipta dari kehancuran tersebut.
Dengan kecepatan wahana antariksa, serpihan USA 32 diperkirakan menyebar luas. Simulasi yang dimuat di situs s2a systems menunjukkan puing-puing itu dapat membentuk cincin besar yang mengelilingi Bumi dalam waktu sekitar 24 jam setelah satelit hancur. Perkiraan itu menggambarkan bagaimana satu peristiwa di orbit dapat menyebarkan risiko ke kawasan yang jauh lebih luas daripada titik awalnya.
Ancaman puing antariksa menjadi perhatian karena orbit Bumi rendah atau LEO telah dipenuhi berbagai wahana. Setiap serpihan yang bergerak di orbit berpotensi menjadi bahaya bagi satelit maupun wahana lain. Meski demikian, belum ada laporan bahwa benda antariksa lain terkena dampak fragmentasi USA 32.
Usia satelit jadi salah satu dugaan
Penyebab kehancuran USA 32 masih menjadi misteri. Tabrakan dengan satelit lain atau sampah antariksa merupakan salah satu penyebab umum satelit hancur. Namun, sejauh ini tidak ada laporan mengenai wahana lain yang terdampak. Selain itu, potensi tabrakan biasanya dapat diperkirakan beberapa hari atau bahkan beberapa pekan sebelumnya, sehingga kemungkinan tersebut dinilai kecil.
Teori lain yang dianggap kuat berkaitan dengan usia satelit. USA 32 telah berada di lingkungan ekstrem orbit Bumi rendah selama hampir empat dekade dan mungkin tidak dirancang untuk beroperasi selama itu. Paparan suhu dan kondisi orbit dalam jangka panjang dapat membuat komponen di dalamnya mengalami kerusakan.
Spaceweather menyoroti kemungkinan adanya baterai dan sisa bahan bakar pendorong yang masih tersimpan di wahana tua. “Setelah proses pemanasan dan pendinginan 38 tahun, tangki bertekanan atau sel baterai pada USA 32 bisa saja pecah,” tulis Spaceweather. Dugaan itu belum dapat dipastikan, tetapi memberi gambaran tentang bagaimana kerusakan internal dapat memicu fragmentasi tanpa tanda yang diketahui publik.
Belum ada bukti serangan senjata antisatelit
Kemungkinan USA 32 dihantam senjata antisatelit juga belum sepenuhnya disingkirkan. Pada awal bulan yang sama, Sekretaris Angkatan Udara AS Troy E. Meink untuk pertama kalinya mengungkap bahwa AS telah meluncurkan senjata ke orbit. China dan Rusia juga diduga memiliki teknologi serupa.
Namun, tidak ada bukti yang menghubungkan penggunaan senjata antisatelit dengan kehancuran USA 32. Informasi yang ada saat ini belum cukup untuk membedakan apakah satelit itu pecah akibat kerusakan alami, tabrakan, atau faktor lain. Karena itu, dugaan serangan belum bisa diperlakukan sebagai kesimpulan.
Peneliti dapat mencoba mengungkap penyebabnya melalui rekayasa balik: mengidentifikasi serpihan yang ditemukan, lalu menelusuri lintasannya menuju titik awal fragmentasi. Proses tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sembari menunggu hasil penyelidikan, pecahnya USA 32 menjadi pengingat bahwa satelit yang sudah lama tak beroperasi pun masih dapat meninggalkan persoalan di orbit.
