Gerakan Keayahan Jadi Penopang Program 1.000 HPK

Kemenkes menginisiasi Gerakan Keayahan untuk memperkuat Program 1.000 HPK dan mendorong ayah terlibat dalam pemenuhan kesehatan anak sejak masa awal kehidupan.

gerakan-keayahan-penopang-program-1000-hpk

Kementerian Kesehatan menginisiasi Gerakan Keayahan untuk mendorong keterlibatan ayah dalam Program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), upaya pemerintah mencegah stunting sekaligus menekan kematian ibu dan bayi. Peran ayah dinilai penting karena kualitas fisik dan kecerdasan anak mulai dibentuk sejak masih dalam kandungan.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, program 1.000 HPK mencakup empat intervensi kunci: sebelum kehamilan; masa kehamilan, persalinan, dan bayi baru lahir; periode bawah dua tahun (baduta); serta penguatan layanan kesehatan. Menurut dia, rangkaian upaya tersebut membutuhkan dukungan keluarga yang solid agar dapat berjalan dengan baik.

Gerakan Keayahan atau Fatherhood Movement diperkenalkan sebagai pendukung utama program itu. Pemerintah ingin keterlibatan ayah tidak berhenti pada saat persalinan, melainkan menjadi bagian dari perhatian keluarga terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak pada masa awal kehidupannya.

Peran ayah dalam 1.000 hari pertama kehidupan

Dante menyoroti bahwa perkembangan otak berlangsung paling besar pada usia nol hingga dua tahun. Karena itu, menurut dia, investasi pada masa awal kehidupan atau early years menjadi penting. Pesan tersebut menempatkan periode baduta sebagai salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian dalam rangkaian 1.000 HPK.

“Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak. Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat,” kata Dante dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Pernyataan itu menandai perluasan peran ayah dalam pendampingan keluarga. Jika istilah Suami Siaga lekat dengan kesiapan mendampingi proses persalinan, gagasan Ayah Siaga diarahkan pada keterlibatan yang lebih luas selama fase awal kehidupan anak. Kemenkes menyebut keterlibatan tersebut sebagai bagian dari upaya memenuhi kesehatan anak.

Dalam keterangan yang disampaikan, Dante tidak merinci bentuk kegiatan khusus Gerakan Keayahan. Namun, penekanannya jelas: pemenuhan kesehatan dan gizi anak tidak semestinya hanya dibebankan kepada ibu. Dukungan anggota keluarga, terutama ayah, dipandang sebagai unsur yang membantu program 1.000 HPK menjangkau kehidupan sehari-hari di rumah.

Pencegahan stunting dimulai sebelum kehamilan

Program 1.000 HPK berfokus pada pencegahan stunting, penurunan kematian ibu dan bayi, serta upaya memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal. Menurut Dante, persiapan untuk mencapai tujuan itu perlu dilakukan sejak remaja, calon pengantin, hingga pasangan usia subur (PUS).

Rentang persiapan tersebut menunjukkan bahwa perhatian pada kesehatan anak tidak baru dimulai setelah bayi lahir. Intervensi sebelum kehamilan menjadi satu dari empat bagian program, disusul masa kehamilan, persalinan, dan bayi baru lahir. Periode baduta serta penguatan layanan kesehatan melengkapi rangkaian tersebut.

Dengan cakupan itu, 1.000 HPK tidak hanya dipahami sebagai urusan satu tahap pengasuhan. Pemerintah menempatkan persiapan sebelum kehamilan dan dukungan layanan sebagai bagian dari agenda yang sama dengan perhatian pada bayi dan anak berusia di bawah dua tahun. Keterlibatan keluarga menjadi penghubung penting agar fokus program tersebut dapat diterapkan di tingkat rumah tangga.

Penekanan pada keluarga juga memperluas cara melihat pencegahan stunting. Dalam pesan Kemenkes, kesehatan dan gizi anak bukan semata tanggung jawab ibu. Ayah diharapkan hadir sebagai bagian aktif dari upaya keluarga memenuhi kebutuhan kesehatan anak, sejalan dengan tujuan program untuk mendukung pertumbuhan yang optimal.

Kualitas keluarga dan waktu bersama anak

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor yang selaras dengan pelaksanaan di rumah. Ia mengibaratkan kerja sama pemerintah dengan implementasi keluarga seperti botol dan tutupnya: keduanya perlu cocok agar dapat berfungsi bersama.

Veronica menyebut kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Ia juga mengingatkan bahwa kesibukan orang tua dan anak dapat membuat waktu bersama berkurang. Karena itu, ia mendorong keluarga membangun waktu berkualitas antara ayah, ibu, dan anak.

“Yang terpenting adalah membangun quality time antara bapak, ibu, dan anak. Kembalikan lagi kebiasaan makan masakan rumah, bukan makanan instan, sebagai fondasi hidup sehat yang kuat,” kata Veronica.

Pesan tersebut melengkapi ajakan Kemenkes agar tanggung jawab pengasuhan dan kesehatan anak dijalankan bersama. Gerakan Keayahan menjadi salah satu upaya untuk menguatkan peran itu, sementara kolaborasi lintas sektor diharapkan sejalan dengan praktik keluarga sehari-hari.

Keberhasilan 1.000 HPK pada akhirnya membutuhkan kesinambungan: persiapan sebelum kehamilan, perhatian selama masa awal kehidupan, dukungan layanan kesehatan, serta keterlibatan keluarga. Pemerintah menempatkan ayah sebagai bagian dari fondasi tersebut. Implementasi Gerakan Keayahan di rumah akan menjadi langkah penting agar ajakan itu tidak berhenti sebagai gagasan.

Ruangpublik