Saat Berhemat, Protein Hewani Jangan Ikut Dipangkas
Tekanan ekonomi membuat sebagian keluarga mengurangi belanja protein hewani. Dokter Ray Wagiu Basrowi mengingatkan, penghematan pangan bergizi dapat berdampak pada kesehatan dan tumbuh kembang.
Di tengah tekanan ekonomi, keluarga yang menurunkan gaya hidup perlu berhati-hati agar penghematan tidak berujung pada berkurangnya asupan protein. Telur, ikan, daging, dan susu kerap menjadi pangan yang pertama dikurangi karena harganya relatif lebih tinggi dibandingkan sumber kalori lain.
Dokter sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengingatkan bahwa keputusan mengurangi belanja protein hewani dapat membawa dampak kesehatan dalam jangka panjang. Menurut dia, keluarga sering menunda pembelian atau mengurangi jatah pangan tersebut ketika kemampuan ekonomi melemah.
“Penelitian global membuktikan keluarga yang menghemat atau downgrade sering ikut menghemat pembelian pangan sumber protein hewani seperti daging susu telur karena memang secara cost unit pangan protein lebih mahal dibanding karbohidrat misalnya,” kata Ray.
Protein hewani penting bagi tumbuh kembang anak
Protein hewani bukan sekadar sumber protein bermutu tinggi. Pangan ini juga menyediakan zat gizi penting, antara lain zat besi, zinc, dan vitamin B12. Asupan tersebut berperan dalam pertumbuhan anak, perkembangan fungsi otak, daya tahan tubuh, serta produktivitas orang dewasa.
Karena itu, berkurangnya konsumsi protein dapat menjadi persoalan lebih luas daripada perubahan menu harian. Anak-anak berisiko tidak tumbuh dan berkembang secara optimal, sedangkan anggota keluarga lainnya dapat lebih rentan sakit dan mengalami penurunan produktivitas.
Dampaknya tidak selalu terasa seketika. Penghematan hari ini mungkin tampak membantu mengendalikan pengeluaran, tetapi kualitas makanan yang terus menurun berpotensi membawa konsekuensi kesehatan pada kemudian hari. Risiko ini perlu diperhitungkan, terutama ketika keluarga sedang menyusun prioritas belanja.
Ray mengingatkan agar upaya menjaga kondisi keuangan tidak membuat keluarga mengabaikan kebutuhan gizi. Menurut dia, pengeluaran untuk pangan bergizi semestinya dipandang sebagai investasi kesehatan, bukan semata-mata beban rumah tangga.
“Jangan sampai keluarga merasa berhasil berhemat hari ini, tetapi harus membayar jauh lebih mahal akibat masalah kesehatan pada masa mendatang.”
Menata belanja tanpa mengorbankan gizi
Tekanan ekonomi dapat mendorong keluarga menyesuaikan pola konsumsi. Namun, pemangkasan belanja perlu dilakukan dengan mempertimbangkan manfaat pangan yang dikurangi. Protein hewani termasuk kelompok pangan yang perlu dijaga karena kandungan gizinya mendukung kebutuhan tubuh, dari masa pertumbuhan hingga usia dewasa.
Ray tidak menyebut keluarga harus mengabaikan kenyataan kemampuan belanja. Pesannya adalah jangan sampai penghematan membuat kebutuhan protein terus ditunda atau porsinya dikurangi tanpa mempertimbangkan akibatnya. Dalam situasi seperti ini, pemenuhan gizi perlu tetap menjadi bagian dari pertimbangan ketika keluarga mengatur pengeluaran.
Persoalan tersebut juga tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab rumah tangga. Keluarga berpenghasilan rendah dan kelompok rentan akan semakin kesulitan memenuhi pangan bergizi apabila harga tidak terjangkau atau pasokan tidak tersedia dengan baik.
Harga pangan protein perlu menjadi perhatian
Ray menilai pemerintah perlu memastikan stabilitas harga, ketersediaan pasokan, dan keterjangkauan sumber protein hewani. Telur, ikan, daging, dan susu, menurut dia, perlu dilihat bukan hanya sebagai komoditas yang dibeli masyarakat, melainkan juga bagian dari upaya menjaga kesehatan publik.
Ketika pangan bergizi makin sulit dijangkau, dampaknya bisa merembet dari perubahan pola makan ke kualitas kesehatan. Dalam jangka panjang, kondisi itu juga berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pengendalian harga pangan protein menjadi salah satu perhatian penting, terutama bagi keluarga yang daya belinya terbatas.
“Ketika daya beli masyarakat turun, negara harus memastikan standar sehat rakyat tidak ikut turun,” ujar Ray. Ia menegaskan bahwa dampak tekanan ekonomi terhadap konsumsi pangan tidak berhenti pada angka belanja, tetapi juga menyangkut kesehatan dan masa depan masyarakat.
Menyesuaikan gaya hidup mungkin menjadi pilihan ketika pengeluaran harus dikendalikan. Namun, menjaga kecukupan pangan bergizi perlu tetap masuk dalam perhitungan keluarga dan kebijakan publik. Dengan akses protein yang terjaga, upaya berhemat tidak harus dibayar dengan risiko kesehatan yang lebih besar di kemudian hari.
