Bank Mandiri Bagikan Dividen Rp50,63 Triliun pada 2026
Bank Mandiri membagikan dividen Rp50,63 triliun sepanjang 2026 dan mengalihkan 91,75 juta saham hasil buyback kepada karyawan. Kredit dan laba perseroan juga tumbuh hingga Agustus.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membagikan dividen senilai total Rp50,63 triliun sepanjang 2026. Nilai tersebut berasal dari dividen tahun buku 2025 sebesar Rp44,47 triliun dan dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp6,16 triliun.
Di luar pembagian dividen, perseroan juga mengalihkan 91,75 juta saham hasil pembelian kembali saham atau buyback kepada karyawan melalui program kepemilikan saham. Kebijakan dividen dan pengalihan saham itu berlangsung saat Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit, penghimpunan dana, serta laba hingga Agustus 2026.
Dividen interim untuk pemegang saham
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, dividen interim diberikan agar pemegang saham dapat menikmati hasil kinerja perusahaan lebih awal. Menurut dia, pembagian tersebut sekaligus mencerminkan kemampuan perseroan dalam menghasilkan laba.
Namun, besaran dividen tetap memperhitungkan kebutuhan modal untuk ekspansi dan antisipasi risiko. Pertimbangan itu, kata Novita, diperlukan agar perusahaan dapat mengembangkan bisnis sekaligus menjaga kemampuan menghasilkan laba yang mendukung imbal hasil berkelanjutan bagi pemegang saham.
“Kami ingin pemegang saham dapat menikmati hasil kinerja Bank Mandiri lebih awal melalui dividen interim. Besarannya tetap memperhatikan kebutuhan modal untuk ekspansi dan mengantisipasi risiko,” ujar Novita dalam keterangan resmi, Kamis (22/10/2026).
Dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp6,16 triliun menjadi bagian dari total pembagian dividen sepanjang tahun ini. Adapun Rp44,47 triliun lainnya berasal dari dividen tahun buku 2025. Dengan demikian, total yang dibagikan mencapai Rp50,63 triliun.
Kebijakan tersebut memperlihatkan pembagian hasil kepada pemegang saham berjalan beriringan dengan kebutuhan permodalan perusahaan. Bank Mandiri menyatakan besaran dividen ditetapkan dengan mempertimbangkan ruang untuk ekspansi dan pengelolaan risiko, bukan hanya hasil yang diterima pemegang saham dalam jangka pendek.
91,75 juta saham dialihkan kepada karyawan
Bank Mandiri juga mengalihkan 91,75 juta saham hasil buyback melalui Program Kepemilikan Saham bagi Karyawan. Pengalihan tersebut dilaksanakan pada 24–29 Juni 2026 dan mengikuti ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Perseroan menyebut program itu ditujukan untuk mendorong produktivitas dan memperkuat rasa memiliki karyawan terhadap perusahaan. Saham yang dialihkan merupakan saham hasil pembelian kembali, bukan angka pembelian saham baru yang dilakukan dalam periode program tersebut.
Program kepemilikan saham karyawan menjadi salah satu langkah yang berjalan bersamaan dengan pembagian dividen. Keduanya memiliki sasaran berbeda: dividen memberikan imbal hasil kepada pemegang saham, sedangkan program saham diarahkan untuk melibatkan karyawan dalam kepemilikan perseroan.
Kredit dan laba tumbuh hingga Agustus 2026
Dari sisi kegiatan usaha, kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.592 triliun hingga Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 17,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada basis yang sama tercatat Rp1.687 triliun, juga meningkat 17,6 persen secara tahunan. Pertumbuhan DPK Bank Mandiri tersebut lebih tinggi daripada kenaikan DPK industri perbankan nasional yang tercatat 13,7 persen.
Untuk kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada di level 1,00 persen hingga Agustus 2026. Sementara itu, rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah atau NPL coverage ratio mencapai 240,6 persen.
Laba bersih Bank Mandiri secara bank only tercatat Rp37,5 triliun hingga Agustus 2026, naik 22,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut menjadi salah satu gambaran kinerja yang mendasari kebijakan perusahaan dalam membagi hasil kepada pemegang saham, sembari menjaga modal untuk pengembangan bisnis dan menghadapi risiko.
Perkembangan kinerja hingga Agustus menjadi konteks penting bagi investor dalam menilai kebijakan dividen Bank Mandiri. Ke depan, perhatian akan tertuju pada kemampuan perseroan mempertahankan pertumbuhan usaha dan kualitas aset, sekaligus menyeimbangkan kebutuhan ekspansi dengan imbal hasil bagi pemegang saham.
